This is my first story...
Saya lahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara yang semuanya berkelamin perempuan. Prestasi saya di bidang akademik cukup dibilang baik mengingat banyaknya prestasi yang saya raih selama masa sekolah dan saya mampu lulus dari SMA di usia saya yang baru menginjak 16 tahun.
Saat kecil, kehidupan menjadi orang kaya merupakan mimpi terbesar dalam hati dan pikiran saya. Meskipun pada waktu itu kondisi ekonomi keluarga tidak dalam keadaan buruk, juga tidak berlebih. Karena pada umumnya, anak yang bermimpi merasakan hidup kaya merupakan anak dari kalangan miskin. Mimpi itu terus melekat pada diri saya hingga saat ini, usia saya menginjak 22 tahun.
Kehidupan saya berjalan mulus dengan orang tua yang mencintai saya, keluarga yang mendukung saya, dan teman-teman yang baik. Kendala mulai terjadi saat saya duduk di kelas 2 SMP, saat itu usia saya 11 tahun. Mama yang merupakan penghasil nafkah terbesar dalam rumah tangga berhenti bekerja karena hamil si adik bungsu. Kondisi inilah yang membuat ekonomi keluarga jatuh perlahan. Uni (satu-satunya kakak perempuan saya) masih kuliah tahun ke-2 di STIE Perbanas. Demi membayar uang kuliah per semester, Papa merelakan motor kesayangan Mama, Yamaha Scorpio keluaran pertama, dijual. Saya ingat, waktu itu motor itu masih dalam masa cicilan. Mama pinjam uang ke Mbah (Bapaknya Mama) untuk melunasi motor, lalu motor dijual. Hasil jualnya untuk mengembalikan uang yang dipinjam tadi, sisanya baru untuk membayar uang kuliah. Mama menangis malam itu. Saya melihatnya dan saya masih mengingat betul peristiwa itu. Kala itu saya hanya diam seakan tak menggubris, namun hatu ini berjanji bahwa saya akan belajar hingga pintar lalu membuat Mama bahagia Perhiasan emas mulai dijual satu per satu untuk menutupi biaya hidup. Orang tua tidak mampu lagi membayar kontrak rumah hingga akhirnya kami menumpang di rumah keluarga Mama.
Hal-hal memilukan mulai terjadi di sini. Bagaimana orang-orang memperlakukan kami mulai berubah sikap. Apalagi keluarga. Saya tidak menyoal pada keluarga Papa karena mereka tidak pernah saya anggap sebagai keluarga. Mereka hanya adik/kakak Papa tetapi bukan siapa-siapa bagi saya. Kebetulan saja kita satu turunan. Namun perlakuan membekas ada dari keluarga Mama yang sebelum dari permasalahan ini muncul sudah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri. Rasa hormat saya melebihi apapun dan seketika cedera akibat perlakuan mereka. Beberapa hal yang teringat jelas di pikiran, salah satunya saat kenaikan kelas ke kelas 3 SMP. Waktu itu saya harus membayar uang daftar ulang, kalau tidak salah, sebesar Rp. 220.000. Mama menyuruh saya meminta uang itu kepada salah satu adik perempuannya yang kehidupan ekonomi jauh lebih baik. Saya dikasih uang tersebut oleh Beliau, namun saya mendapat wejangan panjang kali lebar. Saya lupa persisnya seperti apa kata-kata yang saya dengar saat itu. Tapi yang jelas, kata-kata itu membuat saya menangis dan sedih bahkan menyakiti hati saya. Seingat saya ada kata-kata yang menyinggung soal ketidakmampuan orang tua saya sehingga saya harus tahu diri dan hormat kepada Beliau karena Beliau membuat saya bisa melanjutkan sekolah saya, pada saat itu.
Kelanjutan kisah hidup saya akan saya ceritakan lagi di blog berikutnya.
Blog ini dibuat hanya untuk diri saya pribadi sebagai ulasan kisah saya agar saya tidak pernah lupa siapa saya dan dari mana saya.
Terima kasih.
No comments:
Post a Comment